Masalah cinta emang tak ada habisnya untuk diceritakan.
Well, oleh karena itu, gue membuat sebuah cerpen tentang cinta yang semoga dapat menginspirasikan kalian semua bahwa cinta itu memang membuat orang bertindak diluar logika.
(This stuff based on ngawur story)
Syahdan, dahulu sewaktu masa awal kemerdekaan, hiduplah seorang wanita desa bernama Umar. Kok kayak nama cowok ya? Oke, kalo gitu kita ganti namanya menjadi Cempung (Cewe Kampung) Walaupun dia itu cewe kampung, tetapi cantik banget. Kecantikannya melebihi Maria Ozawa. Banyak lelaki yang menaruh hati padanya. Beberapa hatinya malah ilang karena narohnya sembarangan. Tak terhitung (emang sengaja gak diitung) berapa banyak lelaki yang melamarnya. Tetapi semuanya ditolak Cempung karena dia sudah memiliki seorang pujaan hati, sang pangeran kodok desa sebelah, Condes (cowo ndeso) yang saking gantengnya sampe alisnya gabung.
Setiap malem jumat (jaman dulu weekendnya malem jumat. Gak percaya? Tanya aja sama opa-oma elo) mereka nonton layar tancep di lapangan bareng aki-aki sambil ngemil kacang rebus. Trus kalo hari jumat siangnya, mereka hangout di kali sambil cari kepiting bakal dibakar di pinggir kali. Atau kadang-kadang mereka juga lari-larian di lapangan sambil ngeluarin selendang. Gaya pacaran mereka mirip acara Bolang Dari Desa Main Ke India. Mereka juga termasuk tipe pasangan yang romantis. Setiap hari valentine, mereka saling bertukar dodol garut atau jenang jawa. Maklum, jaman dulu coklat masih langka.
Tapi, orangtua mereka berdua menolak kisah percintaan mereka. Alasannya karena status mereka berbeda. Cempung berasal dari keluarga bangsawan, punya tanah banyak, punya kebo banyak, punya sepeda kumbang juga. Sedangkan Condes hanyalah anak yang berasal dari keluarga miskin. Yang bisa dibanggakannya hanyalah tompel seukuran biji jagung yang nongol dengan indahnya di sebelah lobang hidungnya yang sebelah kanan. Tapi, gelora cinta mereka tetap membara walaupun tokai kebo yang menghadang.
“Kakanda, bagaimana kalo kita kawin lari saja?” kata Cempung.
“Aduh adinda, kakanda tidak kuat jikalau harus kawin lari.” jawab Condes.
“Mengapa kakanda?”
“Kaki kakanda tidaklah kuat kalau harus lari terus” jawab Condes sotoy.
“.....”
“Ada apa adinda?”
“Kakanda bego!” balas Cempung kesel.
Pada akhirnya, mereka kawin lari. Dengan menumpang Boeing 707, mereka pergi ke Vietnam. Di Vietnam pada masa itu sedang terjadi perang saudara. Dengan ketidak beruntungan, mereka malah terjebak di medan perang. Mereka menghindar dari peluru nyasar yang salah alamat (ya iyalah) dan kejaran Vietkong karena dikira mata-mata.
Pada suatu malam, Condes dan Cempung bertemu dengan Rambo yang lagi perang melawan Vietkong sewaktu lagi boker di kali. Condes langsung di interogasi oleh Rambo
Rambo: “Hey! What are you doing there? Who are you?”
Condes: “Oh... yes thanks...oke mister!”
R: “Oke your head??!!”
C: “I Indonesian” Condes ngomong sebisanya.
R: “Oh... kamu orang Indonesia?”
C: “Lho? Kok bisa bahasa Indonesia?”
R: “Iya lah.. Saya juga pernah ikut dalam perang pembebasan Irian Barat.”
Singkat kata, Condes dan Cempung diantar Rambo sampai ke luar perbatasan Vietnam dan mereka meneruskan perjalanan ke Singapura. Sebelum berpisah dengan Rambo, mereka sempet cipika-cipiki juga.
Sampai di Singapura, mereka takjub melihat ada patung singa yang berbadan ikan dan muntahin air terus menerus. Dasar orang udik, mereka malah mandi bareng-bareng dibawah guyuran air mancur dari mulut patung singa tersebut.
Karena dianggap mengganggu ketertiban umum, Dua Sejoli ini dideportasi oleh pemerintah Singapura. Mereka dimasukin ke boks, ditumpangin pesawat kargo sampe ke Jombang.
Singkat cerita lagi, di Jombang sedang gempar akan masalah Ryan si pembunuh berantai itu. Karena khawatir akan keselamatan Belahan Jiwanya, Cempung berkata pada Condes:
“Kakanda, adinda takut berada di kota ini”
“Adinda, ini sudah tahun 2009. Biar keliatan gaul, sekarang panggil Kakanda dengan sebutan “Say..” okeh?? Biar gaul getooh!”
“Yo’i Coy!” Bales Cempung tidak kalah gaul.
“Tapi..” lanjut Cempung. “Gue takut disini, men.. Ntar lo jadi korban sodom Ryan gimana?”
“Santai aja say, gue kalo mau homo juga pilih-pilih kok.”
“Berarti selama ini elo homo?”
“Ya.. kadang-kadang sih..”
“Idieh...!!! Najis dah gue! Pokoknya kita sekarang berobat! Kita ke dukun Ponari!” Cempung sewot.
Selanjutnya, mereka menemui dukun Ponari yang lagi asik mainan laptop barunya.
Di desa Ponari sudah banyak sekali manusia yang mengantri untuk mencari kesembuhan lewat batu petir milik Ponari. Karena pasien yang membludak, polisi menghentikan praktik Ponari. Tak ayal, Pasangan Gaul ini gak bisa berobat.
Tapi, Cempung tidak kehabisan akal.
Berbekal gerobak dan sepaketparsel buah-buahan yang dicolong dari tetangga sebelah, mereka berdua berpura-pura jadi penjual rujak. Menurut kabar burung (burungnya jenis burung onta) Ponari amat menyukai rujak. Mereka berdua berjualan rujak di depan rumah Ponari. Si dukun yang lagi laper, akhinya membeli rujak.
“Mas, rujak mas..” tawar si Cempung.
“Iya, rujaknya 1, Bu” kata Ponari.
“Iya dek, tapi yang buat ngulek gak ada nih. Bisa pinjem batu adek gak? Atau adek sendiri yang mau ngulek pake batu itu? Biar mantep rasanya!” si Cempung menghasut.
“Oke deh!” akhirnya Ponari termakan bujuk rayu Cempung.
Setelah mengulek, Condes membawakan seember air buat Ponari. Dia bilang kalau air itu buat nyuciin tangan+batu Ponari yang habis buat ngulek rujak.
Voila!!!
Mereka mendapatkan air celupan tangan Ponari yang berasa asem, pedes dan rada asin karena habis ngulek rujak. Tanpa basa-basi, Condes meminum air itu dan penyakit homonya sembuh dalam hitungan detik (total 8182635782 detik)
Keperkasaaan Condes kembali pulih dan dia bisa membahagiakan Cempung untuk selamanya..
Hahahahahaha...
THE END
That all folks!
2 komentar:
haha..
rambonya bisa bahasa indo...
wew...
Ponari uda bosen tu ama HP barunya ya? maenannya leptop skrg.. ck ck ck..
Cerita kacut parah, gw jg bikin ahh...
Poskan Komentar